by ariesandi
Ibu Ani, bukan nama sebenarnya, kebingungan menghadapi anaknya yang baru saja kelas 1 SD. Tingkah lakunya menjadi susah dikontrol dan sering dimarahi guru di kelas. Ia dilaporkan sering berjalan-jalan di kelas mengganggu teman-temannya ketika pelajaran berlangsung. Di rumah pun demikian, adiknya tak pernah lolos dari gangguannya. Hal ini terjadi sejak ia mulai masuk kelas 1 SD. Selain itu motivasi belajarnya juga naik turun namun banyak turunnya.Sampai suatu saat guru kelasnya angkat tangan dan menyarankan orangtuanya untuk pergi ke psikolog dan melakukan tes IQ. Setelah beberapa hari keluarlah hasil tes yang dimaksud yang menyatakan bahwa si Erik, anak Ibu Ani, normal-normal saja. IQ nya 122 skala Weschler. Saran dari tes tersebut adalah Erik perlu pendampingan yang lebih konsisten dan diperhatikan kebutuhan emosionalnya.Saudara Ibu Ani, teman baik saya, menyarankan Ibu Ani pergi menemui saya sekedar untuk mendapatkan wawasan dan bertukar pikiran. Singkat cerita saya pun menemui Ibu Ani, suaminya dan teman saya tersebut, sekaligus melepas rindu karena lama tak ngobrol lagi dengannya sejak kami berpisah sewaktu lulus SMA.Setelah membaca hasil tes IQ Erik saya bertanya pada Ibu Ani beberapa hal. Ibu Ani tidak bekerja, ia sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus pekerjaan rumah tangga dan 2 orang anaknya. Ia mengeluh mengapa waktu yang ia curahkan untuk si Erik seakan kurang. Apalagi sejak kelahiran adiknya maka si Erik suka sekali mencari perhatian dengan melakukan berbagai hal yang aneh-aneh.Satu hal yang perlu kita sadari tentang kedekatan orangtua dengan anak. Banyak orang mengartikan kedekatan orangtua dengan anak hanyalah kedekatan secara fisik. Seperti suami Ibu Ani, ketika saya tanya berapa banyak waktu yang ia curahkan pada Erik secara rata-rata dalam sehari. Ia mengatakan bahwa setiap pulang kerja ia selalu menemani Erik. Dan itu terjadi hampir tiap hari kecuali kalau ada tamu.Kemudian saya menggali lebih dalam lagi untuk tahu apa yang ia lakukan sewaktu bersama Erik. Ia pun menjawab bahwa mereka berdua nonton TV. “Oke saya harap anda berdua menonton film edukasi bagi si Erik, jangan nonton sinetron yang banyak adegan kekerasan, manipulasi, iri dan dengki”, kata saya.“Lha mana bisa Pak, Papanya suka nonton sinetron kok!”, sahut Ibu Ani tiba-tiba.“Oke Pak, kalau begitu bolehkah saya tahu satu hal lagi? Apakah yang Bapak lakukan sewaktu nonton TV dengan Erik?”, tanya saya lebih spesifik pada suami Ibu Ani.“Ehm, ya nonton aja Pak sambil terkadang peluk Erik”, katanya.Dan saya pun segera bisa menebak apa yang kurang pada si Erik. Kedua orangtua Erik hanya dekat secara fisik dengan anak mereka namun tidak ada keterlibatan emosi yang mendalam.Kebanyakan orangtua bertindak sebagai “supervisor” bagi anaknya. Ketika sang anak pulang sekolah maka serentetan “pertanyaan rutin” dan bisa ditebak pasti meluncur menyerang si anak. Sambil menggandeng tangan anak maka muncullah pertanyaan semacam ini :
“Tadi ulangannya bisa atau tidak?”
“Ada PR atau tidak?”
“PR mu tadi benar atau tidak?”
“Besok ulangan apa?”
“Makanannya tadi habis atau tidak?”
“Kamu tadi nakal atau tidak?”
“Kamu tadi dihukum atau tidak?” Dan terjadilah percakapan mekanis yang berulang dari hari ke hari selama anak itu sekolah. Bisa jadi itu pertanyaan yang sama yang akan diucapkan pertama kali saat anak pulang sekolah dari SD sampai SMU. Dan inilah yang sering dimaksud oleh para orangtua dengan “kedekatan dengan anak”. Ya …… memang itu kedekatan tapi lebih banyak kedekatan secara fisik saja.Sama juga dengan ketika memandikan anak, mengajaknya nonton VCD bersama atau mengajaknya jalan-jalan. Ada yang melakukannya dengan sepenuh hati sambil bercakap-cakap santai dengan si anak ada juga yang hanya sekedar melakukan hal itu semata-mata karena kita memang harus melakukannya. Bukan dengan sepenuh hati.Lalu bagaimana caranya agar kedekatan kita bermakna bagi anak? Pastikan kita mengetahui apa yang ia rasakan. Katakan pada anak sewaktu ia pulang sekolah “Halo Sayang, bagaimana harimu? Apa yang kamu rasakan hari ini? Bersemangat atau gembira atau tak sabar menanti hari esok karena ada suatu kejutan?”Setelah ia menanggapi jangan berusaha menasehati apapun, cukup dengarkan saja. Kalau ia mengatakan sesuatu yang positif maka katakan “Wow, Mama/Papa ikut senang mendengarkan pengalamanmu hari ini. Terus … terus apa lagi?”Kalau ia mengatakan sesuatu yang negatif cukup katakan,”Oh, Mama/Papa ikut sedih mendengar hal itu. Mama/Papa juga pernah mengalami perasaan seperti itu. Kamu mau mendengar bagaimana Mama/Papa mengatasi perasaan itu?” Dan kemudian ceritakan tanpa bermaksud menggurui. Setelah itu berikan pelukan hangat padanya.Ingatlah sewaktu mendengarkan anak bercerita atau mengungkapkan perasaanya maka pastikan kita tak melakukan apapun atau mengerjakan apapun. Tatap matanya dan dengarkan dengan penuh perhatian. Jika ada telepon dan itu bisa ditunda cobalah untuk tidak menanggapinya terlebih dahulu jika memang Anda memandang anak lebih penting. Dalam hati terdalam seorang anak ia ingin dinomorsatukan oleh papa atau mamanya.Selain itu perhatikan tangki emosional anak kita. Tangki emosional atau tangki cinta ini kita penuhi melalui bahasa cinta yang tepat. Ada lima bahasa cinta yang bisa kita berikan pada anak tergantung mana yang dominan. Kelimanya adalah layanan, kata-kata pendukung, hadiah, sentuhan fisik, dan waktu berkualitas. Jika tangki emosional seorang anak penuh maka ia mudah diajak kerja sama dan mudah menurut serta memiliki motivasi tinggi.
BUNDA AKHTAR
Parenting & Counseling
Selasa, 15 Juli 2008
Jumat, 21 Maret 2008
LONG LIFE LEARNING MENTALITY
LONG LIFE LEARNING MENTALITY
Saat ini sikap menjadi seorang pembelajar merupakan sebuah keharusan. Zaman bergerak dengan sangat cepat. Arus informasi melesat dengan tanpa dapat dihentikan. Menjadikan kompetisi kehidupan menjadi semakin keras.
Manusia pada dasarnya didesain untuk menjadi manusia pembelajar. Manusia yang senantiasa mengembangkan kapasitas dirinya. Memaksimalkan potensi diri (nalar, naluri, dan nurani) untuk menjadi yang terbaik.
Menjadi manusia pembelajar bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan kodrat manusia. Sesekali mungkin Anda perlu memperhatikan anak-anak kecil disekitar Anda. Hanya dengan berbekal dua hal, ketidaktahuan dan keingin tahuan mereka dapat tumbuh besar menjadi pribadi yang lebih kuat, dewasa, dan penuh dengan kejeniusan.
Secara bertahap mereka pelajari setiap hal disekitar dengan intens. Mulai dari belajar tengkurap, merayap, merangkak, berdiri, berjalan, hingga berlari. Belajar mendengarkan suara, mengenali suara, mengeluarkan suara, hingga dapat menyebutkan setiap nama benda dan gerakan yang dilakukan.
Semuanya dilakukan dengan penuh kepolosan dan antusias. tidak ada kata menyerah dan putus asa dalam menjalaninya. Setiap kegagalan yang dialami tidak pernah menjadi penurun semangat. Yang ada adalah BELAJAR, BELAJAR, dan terus BELAJAR hingga BISA.
Salah satu kunci bagi seorang manusia pembelajar adalah kegilaannya dalam membaca. Kegiatan belajar selalu diidentikkan dengan kegiatan membaca. Ketika Anda sedang menggoreskan pena diatas kertas, Anda dipandang orang lain sedang melakukan aktivitas menulis. Disaat Anda sedang melakukan percobaan maupun melakukan aktifitas motorik lainnya maka orang berpikiran bahwa Anda sedang mengerjakan sesuatu. Dan ketika Anda sedang membolak-balikkan halaman buku, maka secara otomatis semua orang yang memandang Anda akan sepakat bahwa Anda sedang belajar.
Di masyarakat kita orang yang hobby baca sering diberi gelar si kutu buku. Makhluk yang digambarkan berpenampilan culun, berkaca mata tebal, rambut disisir miring dengan rapi atau dikepang dua. Sangat sukar bergaul. Dan berbagai macam gambaran lainnya.
Saya kurang sependapat dengan pandangan umum diatas. Hal yang salah jika dikatakan bahwa orang yang senang baca buku adalah orang yang tidak gaul. Justru orang yang senang baca buku adalah orang yang gaul. Mereka memiliki wawasan luas tentang berbagai macam hal. Terdapat banyak ide pembicaraan bermutu jika Anda bertemu mereka. Sebaliknya orang yang jarang baca buku pasti susah bergaul. Keterbatasan wawasan menjadikan mereka terpaku dalam setiap pembicaraan. Kalaupun mereka berbicara, biasanya yang di bicarakan hanya omong-kosong. Nggak ada mutunya. Di ajak ngobrolin teknologi, eh nyambungnya ke teko dan poci. Di ajak bicara tentang Apolo 13, eh malah nanya “Wolo po Olo?”.
Budaya baca bangsa Indonesia masih sangat jauh ketinggalan dengan tetangga-tetangganya di Asia. Di Jepang hampir dapat dipastikan di penjuru sudut kota akan Anda temukan orang yang sedang baca. Apakah itu di dalam kereta, di taman kota, di halte bus, bahkan di tempat makan sekalipun. Masyarakat Malaysia dan Singapura pun memiliki minat baca yang cukup tinggi. Tidaklah heran seperti apa perkembangan kemajuan negaranya dibandingkan negara Kita.
Kebanyakan dari masyarakat Indonesia menghabiskan hampir seperempat waktunya dalam sehari untuk duduk di depan TV, bahkan di hari libur bisa mencapai 12 jam dalam sehari. Di mulai dari bangun tidur, ketika sarapan, disaat istrahat kerja, sore hari sepulang kerja, dimalam hari bersama keluarga, hingga di pagi buta saat menonton film kesayangan atau pertandingan sepak bola. Acara yang di tontonpun sangat beragam mulai dari telenovela, sinetron, kuis, hingga acara gosip dan berita criminal.
Disaat menonton TV, seseorang berada dalam posisi pasif. Seluruh pikiran dan konsentrasi terarah pada TV. Yang terjadi saat Anda menonton TV adalah Anda menerima informasi secara searah, yaitu dari TV ke Anda. Anda tidak memiliki kesempatan untuk berpikir secara kritis. Bahkan terkadang dengan kesadaran penuh Anda mengetahui bahwa sebenarnya Anda sedang di tipu, direkayasa, diperdaya oleh sang sutradara. Anda mengetahui dengan pasti bahwa cerita dalam sinetron maupun film tersebut sangatlah tidak masuk akal. Akan tetapi atas nama sebuah kesenangan maka Anda membiarkan diri Anda terus dan terus dibodohi. Kondisi seperti ini yang kemudian menjadikan pikiran Anda menjadi buntu, tidak tajam dalam menganalisa, dan cenderung malas untuk berfikir, hingga mengidap penyakit bodoh yang akut.
Seorang sahabat Nabi, Sayidina Ali pernah berpesan bahwa salah satu macam teman yang harus dihindari adalah berteman dengan orang yang bodoh. Karena dengan kebodohannya tersebut, meski niatnya baik, biasanya ujung-ujungnya malah celaka. Analoginya semisal rumah Anda lagi kebakaran, teman yang bodoh tanpa berpikir panjang akan menyiramkan apa saja kedalam api, entah itu air, cuka, minyak tanah maupun bensin. Niatnya sudah cukup baik, yaitu memadamkan api. Namun kebodohannya telah menjadikan niat baik tersebut bukannya menolong Anda malah semakin mencelakakan Anda.
Berdebat dengan orang bodoh hanya akan menghabiskan energi Anda. Bahkan disatu sisi kebodohan dapat memicu tindakan tidak rasional. Segala bentuk tindakan kekerasan umumnya dikarenakan ketidakmampuan dalam merasionalkan masalah. Seandainya seseorang mampu mengontrol emosinya dengan pikiran yang jernih. Setiap masalah dapat diselesaikan secara damai.
Buku adalah nutrisi bagi pikiran Anda. Melalui membaca buku Anda memberikan makanan bagi pikiran Anda. Sebagaimana organ tubuh lainnya yang membutuhkan makanan untuk energi. Pikiran pun membutuhkan bacaan sebagai energinya. Tanpa adanya energi, segala sesuatu pasti akan mati.
Membaca buku menjadikan seseorang kaya akan informasi. Info-info yang dimiliki ini yang kemudian menjadi bahan dasar untuk merumuskan pemecahan dari setiap masalah yang ditemui. Semakin banyak info yang Anda miliki, semakin bijak setiap keputusan yang dapat Anda buat. Ibarat seekor Elang, Anda dapat melihat masalah dari tempat yang tinggi.
Mari kita lihat apa yang Anda miliki jika Anda mulai membiasakan diri membaca buku sehari selama satu jam. Membaca buku selama satu jam dalam sehari maka dalam seminggu Anda akan dapat menyelesaikan minimal satu buku. Hal itu sama dengan membaca empat buku dalam sebulan. Selama setahun total buku yang telah Anda baca mencapai empat puluh delapan buku . Dalam sepuluh tahun, hampir lima ratus buku yang telah Anda baca.
Selanjutnya Anda bandingkan jika dalam sehari Anda mengalokasikan waktu tiga jam untuk membaca buku. Satu jam setelah Anda bangun dipagi hari, satu jam disaat santai di sore hari, dan satu jam sebelum Anda tidur dimalam hari. Dalam satu minggu maka Anda dapat menghabiskan membaca dua buah buku. Dalam sebulan menjadi delapan buku. Setahun menjadi sembilan puluh enam buku, dan dalam waktu kurang lebih lima tahun Anda telah dapat membaca lima ratus buku.
Jika Anda telah membaca seratus buku tentang manajemen (atau bidang yang lainnya), maka Anda layak disebut sangat baik menguasai ilmu manajemen. Namun jika Anda telah membaca kurang lebih lima ratus buku tentang manajemen maka Anda sangat-sangat layak untuk disebut orang hebat dalam ilmu manajemen.
Rata-rata orang sukses menghabiskan minimal tiga jam untuk membaca buku dibidangnya. Di rumah-rumah mereka terdapat perpustakaan pribadi yang berisi ratusan bahkan ribuan judul buku. Mereka juga sangat-sangat menghargai waktu. Kemanapun mereka pergi, buku senantiasa menjadi teman yang setia. Mereka menyempatkan membaca selembar demi selembar disela-sela kegiatan. Tidak ada waktu kosong yang tidak dilewatkan dengan membaca.
Secara teknis, seseorang tidaklah perlu sekolah setinggi mungkin untuk memperoleh ilmu. Kecuali yang diinginkan adalah ijasah atau gelar akademik. Hanya dengan rajin membaca dan praktek, seseorang bisa menjadi ahli dalam setiap bidang yang diminatinya. Kebanyakan dari para pelajar maupun mahasiswa, kegiatan menuntut ilmu hanya dilakukan saat pembelajaran di dalam kelas. Dengan keterbatasan jam belajar serta kemampuan pengajar dalam menyampaikan materi, dapat Anda perkirakan berapa banyak ilmu yang dapat mereka serap. Tanpa ditunjang oleh kegiatan membaca maka yang tercipta adalah para lulusan perguruan tinggi yang siap memenuhi daftar panjang para pengangguran terdidik di negara ini.
Jika dipersentasekan dari seluruh mahasiswa disebuah Universitas, rata-rata hanya 10% yang gemar membaca. Sebagian lainnya hanya membaca jika ditugaskan oleh dosen. Dan sebagian lainnya bahkan memberi label pada diri mereka sebagai orang yang anti-baca. Sungguh sangat ironis, mahasiswa yang dikenal masyarakat sebagai kaum intelek tapi memiliki minat baca yang sedikit. Inginnya saja di sebut intelek, tapi sikap dan tingkah laku masih seperti anak SMP. Semangatnya ingin jadi aktivis, tapi saat diajak berdiskusi bisanya nengok kanan-kiri. Cita-citanya ingin jadi politisi, tapi bisanya hanya mengkritisi tanpa bisa memberikan solusi. Semua yang dibicarakan tergolong basi.
Untuk memajukan bangsa ini kita butuh lebih banyak pemimpin. Pemimpin sejati yang mampu membawa bangsa ini kepada perubahan besar. Pemimpin sejati yang mampu melihat potensi yang ada dari bangsa ini dan mampu memaksimalkannya untuk kemakmuran bersama. Pemimpin sejati yang mampu mengatasi setiap permasalahan dengan bijak. Pemimpin cerdas yang mampu merubah budaya baca bangsa Indonesia menjadi maju.
Secara yakin, marilah kita pastikan bahwa Andalah salah satu pemimpin sejati itu. Marilah kita bangun bangsa ini bersama. Melalui dari saat ini, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal yang terkecil yaitu membaca buku. Sudahkah Anda membaca buku hari ini? Because Leader is Reader. SALAM SUKSES (Line Diskusi : 0435-8722783)
(Membangun Mental Bangsa Melalui Budaya Baca)
Saat ini sikap menjadi seorang pembelajar merupakan sebuah keharusan. Zaman bergerak dengan sangat cepat. Arus informasi melesat dengan tanpa dapat dihentikan. Menjadikan kompetisi kehidupan menjadi semakin keras.
Manusia pada dasarnya didesain untuk menjadi manusia pembelajar. Manusia yang senantiasa mengembangkan kapasitas dirinya. Memaksimalkan potensi diri (nalar, naluri, dan nurani) untuk menjadi yang terbaik.
Menjadi manusia pembelajar bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan kodrat manusia. Sesekali mungkin Anda perlu memperhatikan anak-anak kecil disekitar Anda. Hanya dengan berbekal dua hal, ketidaktahuan dan keingin tahuan mereka dapat tumbuh besar menjadi pribadi yang lebih kuat, dewasa, dan penuh dengan kejeniusan.
Secara bertahap mereka pelajari setiap hal disekitar dengan intens. Mulai dari belajar tengkurap, merayap, merangkak, berdiri, berjalan, hingga berlari. Belajar mendengarkan suara, mengenali suara, mengeluarkan suara, hingga dapat menyebutkan setiap nama benda dan gerakan yang dilakukan.
Semuanya dilakukan dengan penuh kepolosan dan antusias. tidak ada kata menyerah dan putus asa dalam menjalaninya. Setiap kegagalan yang dialami tidak pernah menjadi penurun semangat. Yang ada adalah BELAJAR, BELAJAR, dan terus BELAJAR hingga BISA.
Salah satu kunci bagi seorang manusia pembelajar adalah kegilaannya dalam membaca. Kegiatan belajar selalu diidentikkan dengan kegiatan membaca. Ketika Anda sedang menggoreskan pena diatas kertas, Anda dipandang orang lain sedang melakukan aktivitas menulis. Disaat Anda sedang melakukan percobaan maupun melakukan aktifitas motorik lainnya maka orang berpikiran bahwa Anda sedang mengerjakan sesuatu. Dan ketika Anda sedang membolak-balikkan halaman buku, maka secara otomatis semua orang yang memandang Anda akan sepakat bahwa Anda sedang belajar.
Di masyarakat kita orang yang hobby baca sering diberi gelar si kutu buku. Makhluk yang digambarkan berpenampilan culun, berkaca mata tebal, rambut disisir miring dengan rapi atau dikepang dua. Sangat sukar bergaul. Dan berbagai macam gambaran lainnya.
Saya kurang sependapat dengan pandangan umum diatas. Hal yang salah jika dikatakan bahwa orang yang senang baca buku adalah orang yang tidak gaul. Justru orang yang senang baca buku adalah orang yang gaul. Mereka memiliki wawasan luas tentang berbagai macam hal. Terdapat banyak ide pembicaraan bermutu jika Anda bertemu mereka. Sebaliknya orang yang jarang baca buku pasti susah bergaul. Keterbatasan wawasan menjadikan mereka terpaku dalam setiap pembicaraan. Kalaupun mereka berbicara, biasanya yang di bicarakan hanya omong-kosong. Nggak ada mutunya. Di ajak ngobrolin teknologi, eh nyambungnya ke teko dan poci. Di ajak bicara tentang Apolo 13, eh malah nanya “Wolo po Olo?”.
Budaya baca bangsa Indonesia masih sangat jauh ketinggalan dengan tetangga-tetangganya di Asia. Di Jepang hampir dapat dipastikan di penjuru sudut kota akan Anda temukan orang yang sedang baca. Apakah itu di dalam kereta, di taman kota, di halte bus, bahkan di tempat makan sekalipun. Masyarakat Malaysia dan Singapura pun memiliki minat baca yang cukup tinggi. Tidaklah heran seperti apa perkembangan kemajuan negaranya dibandingkan negara Kita.
Kebanyakan dari masyarakat Indonesia menghabiskan hampir seperempat waktunya dalam sehari untuk duduk di depan TV, bahkan di hari libur bisa mencapai 12 jam dalam sehari. Di mulai dari bangun tidur, ketika sarapan, disaat istrahat kerja, sore hari sepulang kerja, dimalam hari bersama keluarga, hingga di pagi buta saat menonton film kesayangan atau pertandingan sepak bola. Acara yang di tontonpun sangat beragam mulai dari telenovela, sinetron, kuis, hingga acara gosip dan berita criminal.
Disaat menonton TV, seseorang berada dalam posisi pasif. Seluruh pikiran dan konsentrasi terarah pada TV. Yang terjadi saat Anda menonton TV adalah Anda menerima informasi secara searah, yaitu dari TV ke Anda. Anda tidak memiliki kesempatan untuk berpikir secara kritis. Bahkan terkadang dengan kesadaran penuh Anda mengetahui bahwa sebenarnya Anda sedang di tipu, direkayasa, diperdaya oleh sang sutradara. Anda mengetahui dengan pasti bahwa cerita dalam sinetron maupun film tersebut sangatlah tidak masuk akal. Akan tetapi atas nama sebuah kesenangan maka Anda membiarkan diri Anda terus dan terus dibodohi. Kondisi seperti ini yang kemudian menjadikan pikiran Anda menjadi buntu, tidak tajam dalam menganalisa, dan cenderung malas untuk berfikir, hingga mengidap penyakit bodoh yang akut.
Seorang sahabat Nabi, Sayidina Ali pernah berpesan bahwa salah satu macam teman yang harus dihindari adalah berteman dengan orang yang bodoh. Karena dengan kebodohannya tersebut, meski niatnya baik, biasanya ujung-ujungnya malah celaka. Analoginya semisal rumah Anda lagi kebakaran, teman yang bodoh tanpa berpikir panjang akan menyiramkan apa saja kedalam api, entah itu air, cuka, minyak tanah maupun bensin. Niatnya sudah cukup baik, yaitu memadamkan api. Namun kebodohannya telah menjadikan niat baik tersebut bukannya menolong Anda malah semakin mencelakakan Anda.
Berdebat dengan orang bodoh hanya akan menghabiskan energi Anda. Bahkan disatu sisi kebodohan dapat memicu tindakan tidak rasional. Segala bentuk tindakan kekerasan umumnya dikarenakan ketidakmampuan dalam merasionalkan masalah. Seandainya seseorang mampu mengontrol emosinya dengan pikiran yang jernih. Setiap masalah dapat diselesaikan secara damai.
Buku adalah nutrisi bagi pikiran Anda. Melalui membaca buku Anda memberikan makanan bagi pikiran Anda. Sebagaimana organ tubuh lainnya yang membutuhkan makanan untuk energi. Pikiran pun membutuhkan bacaan sebagai energinya. Tanpa adanya energi, segala sesuatu pasti akan mati.
Membaca buku menjadikan seseorang kaya akan informasi. Info-info yang dimiliki ini yang kemudian menjadi bahan dasar untuk merumuskan pemecahan dari setiap masalah yang ditemui. Semakin banyak info yang Anda miliki, semakin bijak setiap keputusan yang dapat Anda buat. Ibarat seekor Elang, Anda dapat melihat masalah dari tempat yang tinggi.
Mari kita lihat apa yang Anda miliki jika Anda mulai membiasakan diri membaca buku sehari selama satu jam. Membaca buku selama satu jam dalam sehari maka dalam seminggu Anda akan dapat menyelesaikan minimal satu buku. Hal itu sama dengan membaca empat buku dalam sebulan. Selama setahun total buku yang telah Anda baca mencapai empat puluh delapan buku . Dalam sepuluh tahun, hampir lima ratus buku yang telah Anda baca.
Selanjutnya Anda bandingkan jika dalam sehari Anda mengalokasikan waktu tiga jam untuk membaca buku. Satu jam setelah Anda bangun dipagi hari, satu jam disaat santai di sore hari, dan satu jam sebelum Anda tidur dimalam hari. Dalam satu minggu maka Anda dapat menghabiskan membaca dua buah buku. Dalam sebulan menjadi delapan buku. Setahun menjadi sembilan puluh enam buku, dan dalam waktu kurang lebih lima tahun Anda telah dapat membaca lima ratus buku.
Jika Anda telah membaca seratus buku tentang manajemen (atau bidang yang lainnya), maka Anda layak disebut sangat baik menguasai ilmu manajemen. Namun jika Anda telah membaca kurang lebih lima ratus buku tentang manajemen maka Anda sangat-sangat layak untuk disebut orang hebat dalam ilmu manajemen.
Rata-rata orang sukses menghabiskan minimal tiga jam untuk membaca buku dibidangnya. Di rumah-rumah mereka terdapat perpustakaan pribadi yang berisi ratusan bahkan ribuan judul buku. Mereka juga sangat-sangat menghargai waktu. Kemanapun mereka pergi, buku senantiasa menjadi teman yang setia. Mereka menyempatkan membaca selembar demi selembar disela-sela kegiatan. Tidak ada waktu kosong yang tidak dilewatkan dengan membaca.
Secara teknis, seseorang tidaklah perlu sekolah setinggi mungkin untuk memperoleh ilmu. Kecuali yang diinginkan adalah ijasah atau gelar akademik. Hanya dengan rajin membaca dan praktek, seseorang bisa menjadi ahli dalam setiap bidang yang diminatinya. Kebanyakan dari para pelajar maupun mahasiswa, kegiatan menuntut ilmu hanya dilakukan saat pembelajaran di dalam kelas. Dengan keterbatasan jam belajar serta kemampuan pengajar dalam menyampaikan materi, dapat Anda perkirakan berapa banyak ilmu yang dapat mereka serap. Tanpa ditunjang oleh kegiatan membaca maka yang tercipta adalah para lulusan perguruan tinggi yang siap memenuhi daftar panjang para pengangguran terdidik di negara ini.
Jika dipersentasekan dari seluruh mahasiswa disebuah Universitas, rata-rata hanya 10% yang gemar membaca. Sebagian lainnya hanya membaca jika ditugaskan oleh dosen. Dan sebagian lainnya bahkan memberi label pada diri mereka sebagai orang yang anti-baca. Sungguh sangat ironis, mahasiswa yang dikenal masyarakat sebagai kaum intelek tapi memiliki minat baca yang sedikit. Inginnya saja di sebut intelek, tapi sikap dan tingkah laku masih seperti anak SMP. Semangatnya ingin jadi aktivis, tapi saat diajak berdiskusi bisanya nengok kanan-kiri. Cita-citanya ingin jadi politisi, tapi bisanya hanya mengkritisi tanpa bisa memberikan solusi. Semua yang dibicarakan tergolong basi.
Untuk memajukan bangsa ini kita butuh lebih banyak pemimpin. Pemimpin sejati yang mampu membawa bangsa ini kepada perubahan besar. Pemimpin sejati yang mampu melihat potensi yang ada dari bangsa ini dan mampu memaksimalkannya untuk kemakmuran bersama. Pemimpin sejati yang mampu mengatasi setiap permasalahan dengan bijak. Pemimpin cerdas yang mampu merubah budaya baca bangsa Indonesia menjadi maju.
Secara yakin, marilah kita pastikan bahwa Andalah salah satu pemimpin sejati itu. Marilah kita bangun bangsa ini bersama. Melalui dari saat ini, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal yang terkecil yaitu membaca buku. Sudahkah Anda membaca buku hari ini? Because Leader is Reader. SALAM SUKSES (Line Diskusi : 0435-8722783)
LONG LIFE LEARNING MENTALITY
LONG LIFE LEARNING MENTALITY
(Membangun Mental Bangsa Melalui Budaya Baca)
Saat ini sikap menjadi seorang pembelajar merupakan sebuah keharusan. Zaman bergerak dengan sangat cepat. Arus informasi melesat dengan tanpa dapat dihentikan. Menjadikan kompetisi kehidupan menjadi semakin keras.
Manusia pada dasarnya didesain untuk menjadi manusia pembelajar. Manusia yang senantiasa mengembangkan kapasitas dirinya. Memaksimalkan potensi diri (nalar, naluri, dan nurani) untuk menjadi yang terbaik.
Menjadi manusia pembelajar bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan kodrat manusia. Sesekali mungkin Anda perlu memperhatikan anak-anak kecil disekitar Anda. Hanya dengan berbekal dua hal, ketidaktahuan dan keingin tahuan mereka dapat tumbuh besar menjadi pribadi yang lebih kuat, dewasa, dan penuh dengan kejeniusan.
Secara bertahap mereka pelajari setiap hal disekitar dengan intens. Mulai dari belajar tengkurap, merayap, merangkak, berdiri, berjalan, hingga berlari. Belajar mendengarkan suara, mengenali suara, mengeluarkan suara, hingga dapat menyebutkan setiap nama benda dan gerakan yang dilakukan.
Semuanya dilakukan dengan penuh kepolosan dan antusias. tidak ada kata menyerah dan putus asa dalam menjalaninya. Setiap kegagalan yang dialami tidak pernah menjadi penurun semangat. Yang ada adalah BELAJAR, BELAJAR, dan terus BELAJAR hingga BISA.
Salah satu kunci bagi seorang manusia pembelajar adalah kegilaannya dalam membaca. Kegiatan belajar selalu diidentikkan dengan kegiatan membaca. Ketika Anda sedang menggoreskan pena diatas kertas, Anda dipandang orang lain sedang melakukan aktivitas menulis. Disaat Anda sedang melakukan percobaan maupun melakukan aktifitas motorik lainnya maka orang berpikiran bahwa Anda sedang mengerjakan sesuatu. Dan ketika Anda sedang membolak-balikkan halaman buku, maka secara otomatis semua orang yang memandang Anda akan sepakat bahwa Anda sedang belajar.
Di masyarakat kita orang yang hobby baca sering diberi gelar si kutu buku. Makhluk yang digambarkan berpenampilan culun, berkaca mata tebal, rambut disisir miring dengan rapi atau dikepang dua. Sangat sukar bergaul. Dan berbagai macam gambaran lainnya.
Saya kurang sependapat dengan pandangan umum diatas. Hal yang salah jika dikatakan bahwa orang yang senang baca buku adalah orang yang tidak gaul. Justru orang yang senang baca buku adalah orang yang gaul. Mereka memiliki wawasan luas tentang berbagai macam hal. Terdapat banyak ide pembicaraan bermutu jika Anda bertemu mereka. Sebaliknya orang yang jarang baca buku pasti susah bergaul. Keterbatasan wawasan menjadikan mereka terpaku dalam setiap pembicaraan. Kalaupun mereka berbicara, biasanya yang di bicarakan hanya omong-kosong. Nggak ada mutunya. Di ajak ngobrolin teknologi, eh nyambungnya ke teko dan poci. Di ajak bicara tentang Apolo 13, eh malah nanya “Wolo po Olo?”.
Budaya baca bangsa Indonesia masih sangat jauh ketinggalan dengan tetangga-tetangganya di Asia. Di Jepang hampir dapat dipastikan di penjuru sudut kota akan Anda temukan orang yang sedang baca. Apakah itu di dalam kereta, di taman kota, di halte bus, bahkan di tempat makan sekalipun. Masyarakat Malaysia dan Singapura pun memiliki minat baca yang cukup tinggi. Tidaklah heran seperti apa perkembangan kemajuan negaranya dibandingkan negara Kita.
Kebanyakan dari masyarakat Indonesia menghabiskan hampir seperempat waktunya dalam sehari untuk duduk di depan TV, bahkan di hari libur bisa mencapai 12 jam dalam sehari. Di mulai dari bangun tidur, ketika sarapan, disaat istrahat kerja, sore hari sepulang kerja, dimalam hari bersama keluarga, hingga di pagi buta saat menonton film kesayangan atau pertandingan sepak bola. Acara yang di tontonpun sangat beragam mulai dari telenovela, sinetron, kuis, hingga acara gosip dan berita criminal.
Disaat menonton TV, seseorang berada dalam posisi pasif. Seluruh pikiran dan konsentrasi terarah pada TV. Yang terjadi saat Anda menonton TV adalah Anda menerima informasi secara searah, yaitu dari TV ke Anda. Anda tidak memiliki kesempatan untuk berpikir secara kritis. Bahkan terkadang dengan kesadaran penuh Anda mengetahui bahwa sebenarnya Anda sedang di tipu, direkayasa, diperdaya oleh sang sutradara. Anda mengetahui dengan pasti bahwa cerita dalam sinetron maupun film tersebut sangatlah tidak masuk akal. Akan tetapi atas nama sebuah kesenangan maka Anda membiarkan diri Anda terus dan terus dibodohi. Kondisi seperti ini yang kemudian menjadikan pikiran Anda menjadi buntu, tidak tajam dalam menganalisa, dan cenderung malas untuk berfikir, hingga mengidap penyakit bodoh yang akut.
Seorang sahabat Nabi, Sayidina Ali pernah berpesan bahwa salah satu macam teman yang harus dihindari adalah berteman dengan orang yang bodoh. Karena dengan kebodohannya tersebut, meski niatnya baik, biasanya ujung-ujungnya malah celaka. Analoginya semisal rumah Anda lagi kebakaran, teman yang bodoh tanpa berpikir panjang akan menyiramkan apa saja kedalam api, entah itu air, cuka, minyak tanah maupun bensin. Niatnya sudah cukup baik, yaitu memadamkan api. Namun kebodohannya telah menjadikan niat baik tersebut bukannya menolong Anda malah semakin mencelakakan Anda.
Berdebat dengan orang bodoh hanya akan menghabiskan energi Anda. Bahkan disatu sisi kebodohan dapat memicu tindakan tidak rasional. Segala bentuk tindakan kekerasan umumnya dikarenakan ketidakmampuan dalam merasionalkan masalah. Seandainya seseorang mampu mengontrol emosinya dengan pikiran yang jernih. Setiap masalah dapat diselesaikan secara damai.
Buku adalah nutrisi bagi pikiran Anda. Melalui membaca buku Anda memberikan makanan bagi pikiran Anda. Sebagaimana organ tubuh lainnya yang membutuhkan makanan untuk energi. Pikiran pun membutuhkan bacaan sebagai energinya. Tanpa adanya energi, segala sesuatu pasti akan mati.
Membaca buku menjadikan seseorang kaya akan informasi. Info-info yang dimiliki ini yang kemudian menjadi bahan dasar untuk merumuskan pemecahan dari setiap masalah yang ditemui. Semakin banyak info yang Anda miliki, semakin bijak setiap keputusan yang dapat Anda buat. Ibarat seekor Elang, Anda dapat melihat masalah dari tempat yang tinggi.
Mari kita lihat apa yang Anda miliki jika Anda mulai membiasakan diri membaca buku sehari selama satu jam. Membaca buku selama satu jam dalam sehari maka dalam seminggu Anda akan dapat menyelesaikan minimal satu buku. Hal itu sama dengan membaca empat buku dalam sebulan. Selama setahun total buku yang telah Anda baca mencapai empat puluh delapan buku . Dalam sepuluh tahun, hampir lima ratus buku yang telah Anda baca.
Selanjutnya Anda bandingkan jika dalam sehari Anda mengalokasikan waktu tiga jam untuk membaca buku. Satu jam setelah Anda bangun dipagi hari, satu jam disaat santai di sore hari, dan satu jam sebelum Anda tidur dimalam hari. Dalam satu minggu maka Anda dapat menghabiskan membaca dua buah buku. Dalam sebulan menjadi delapan buku. Setahun menjadi sembilan puluh enam buku, dan dalam waktu kurang lebih lima tahun Anda telah dapat membaca lima ratus buku.
Jika Anda telah membaca seratus buku tentang manajemen (atau bidang yang lainnya), maka Anda layak disebut sangat baik menguasai ilmu manajemen. Namun jika Anda telah membaca kurang lebih lima ratus buku tentang manajemen maka Anda sangat-sangat layak untuk disebut orang hebat dalam ilmu manajemen.
Rata-rata orang sukses menghabiskan minimal tiga jam untuk membaca buku dibidangnya. Di rumah-rumah mereka terdapat perpustakaan pribadi yang berisi ratusan bahkan ribuan judul buku. Mereka juga sangat-sangat menghargai waktu. Kemanapun mereka pergi, buku senantiasa menjadi teman yang setia. Mereka menyempatkan membaca selembar demi selembar disela-sela kegiatan. Tidak ada waktu kosong yang tidak dilewatkan dengan membaca.
Secara teknis, seseorang tidaklah perlu sekolah setinggi mungkin untuk memperoleh ilmu. Kecuali yang diinginkan adalah ijasah atau gelar akademik. Hanya dengan rajin membaca dan praktek, seseorang bisa menjadi ahli dalam setiap bidang yang diminatinya. Kebanyakan dari para pelajar maupun mahasiswa, kegiatan menuntut ilmu hanya dilakukan saat pembelajaran di dalam kelas. Dengan keterbatasan jam belajar serta kemampuan pengajar dalam menyampaikan materi, dapat Anda perkirakan berapa banyak ilmu yang dapat mereka serap. Tanpa ditunjang oleh kegiatan membaca maka yang tercipta adalah para lulusan perguruan tinggi yang siap memenuhi daftar panjang para pengangguran terdidik di negara ini.
Jika dipersentasekan dari seluruh mahasiswa disebuah Universitas, rata-rata hanya 10% yang gemar membaca. Sebagian lainnya hanya membaca jika ditugaskan oleh dosen. Dan sebagian lainnya bahkan memberi label pada diri mereka sebagai orang yang anti-baca. Sungguh sangat ironis, mahasiswa yang dikenal masyarakat sebagai kaum intelek tapi memiliki minat baca yang sedikit. Inginnya saja di sebut intelek, tapi sikap dan tingkah laku masih seperti anak SMP. Semangatnya ingin jadi aktivis, tapi saat diajak berdiskusi bisanya nengok kanan-kiri. Cita-citanya ingin jadi politisi, tapi bisanya hanya mengkritisi tanpa bisa memberikan solusi. Semua yang dibicarakan tergolong basi.
Untuk memajukan bangsa ini kita butuh lebih banyak pemimpin. Pemimpin sejati yang mampu membawa bangsa ini kepada perubahan besar. Pemimpin sejati yang mampu melihat potensi yang ada dari bangsa ini dan mampu memaksimalkannya untuk kemakmuran bersama. Pemimpin sejati yang mampu mengatasi setiap permasalahan dengan bijak. Pemimpin cerdas yang mampu merubah budaya baca bangsa Indonesia menjadi maju.
Secara yakin, marilah kita pastikan bahwa Andalah salah satu pemimpin sejati itu. Marilah kita bangun bangsa ini bersama. Melalui dari saat ini, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal yang terkecil yaitu membaca buku. Sudahkah Anda membaca buku hari ini? Because Leader is Reader. SALAM SUKSES (Line Diskusi : 0435-8722783)
(Membangun Mental Bangsa Melalui Budaya Baca)
Saat ini sikap menjadi seorang pembelajar merupakan sebuah keharusan. Zaman bergerak dengan sangat cepat. Arus informasi melesat dengan tanpa dapat dihentikan. Menjadikan kompetisi kehidupan menjadi semakin keras.
Manusia pada dasarnya didesain untuk menjadi manusia pembelajar. Manusia yang senantiasa mengembangkan kapasitas dirinya. Memaksimalkan potensi diri (nalar, naluri, dan nurani) untuk menjadi yang terbaik.
Menjadi manusia pembelajar bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan kodrat manusia. Sesekali mungkin Anda perlu memperhatikan anak-anak kecil disekitar Anda. Hanya dengan berbekal dua hal, ketidaktahuan dan keingin tahuan mereka dapat tumbuh besar menjadi pribadi yang lebih kuat, dewasa, dan penuh dengan kejeniusan.
Secara bertahap mereka pelajari setiap hal disekitar dengan intens. Mulai dari belajar tengkurap, merayap, merangkak, berdiri, berjalan, hingga berlari. Belajar mendengarkan suara, mengenali suara, mengeluarkan suara, hingga dapat menyebutkan setiap nama benda dan gerakan yang dilakukan.
Semuanya dilakukan dengan penuh kepolosan dan antusias. tidak ada kata menyerah dan putus asa dalam menjalaninya. Setiap kegagalan yang dialami tidak pernah menjadi penurun semangat. Yang ada adalah BELAJAR, BELAJAR, dan terus BELAJAR hingga BISA.
Salah satu kunci bagi seorang manusia pembelajar adalah kegilaannya dalam membaca. Kegiatan belajar selalu diidentikkan dengan kegiatan membaca. Ketika Anda sedang menggoreskan pena diatas kertas, Anda dipandang orang lain sedang melakukan aktivitas menulis. Disaat Anda sedang melakukan percobaan maupun melakukan aktifitas motorik lainnya maka orang berpikiran bahwa Anda sedang mengerjakan sesuatu. Dan ketika Anda sedang membolak-balikkan halaman buku, maka secara otomatis semua orang yang memandang Anda akan sepakat bahwa Anda sedang belajar.
Di masyarakat kita orang yang hobby baca sering diberi gelar si kutu buku. Makhluk yang digambarkan berpenampilan culun, berkaca mata tebal, rambut disisir miring dengan rapi atau dikepang dua. Sangat sukar bergaul. Dan berbagai macam gambaran lainnya.
Saya kurang sependapat dengan pandangan umum diatas. Hal yang salah jika dikatakan bahwa orang yang senang baca buku adalah orang yang tidak gaul. Justru orang yang senang baca buku adalah orang yang gaul. Mereka memiliki wawasan luas tentang berbagai macam hal. Terdapat banyak ide pembicaraan bermutu jika Anda bertemu mereka. Sebaliknya orang yang jarang baca buku pasti susah bergaul. Keterbatasan wawasan menjadikan mereka terpaku dalam setiap pembicaraan. Kalaupun mereka berbicara, biasanya yang di bicarakan hanya omong-kosong. Nggak ada mutunya. Di ajak ngobrolin teknologi, eh nyambungnya ke teko dan poci. Di ajak bicara tentang Apolo 13, eh malah nanya “Wolo po Olo?”.
Budaya baca bangsa Indonesia masih sangat jauh ketinggalan dengan tetangga-tetangganya di Asia. Di Jepang hampir dapat dipastikan di penjuru sudut kota akan Anda temukan orang yang sedang baca. Apakah itu di dalam kereta, di taman kota, di halte bus, bahkan di tempat makan sekalipun. Masyarakat Malaysia dan Singapura pun memiliki minat baca yang cukup tinggi. Tidaklah heran seperti apa perkembangan kemajuan negaranya dibandingkan negara Kita.
Kebanyakan dari masyarakat Indonesia menghabiskan hampir seperempat waktunya dalam sehari untuk duduk di depan TV, bahkan di hari libur bisa mencapai 12 jam dalam sehari. Di mulai dari bangun tidur, ketika sarapan, disaat istrahat kerja, sore hari sepulang kerja, dimalam hari bersama keluarga, hingga di pagi buta saat menonton film kesayangan atau pertandingan sepak bola. Acara yang di tontonpun sangat beragam mulai dari telenovela, sinetron, kuis, hingga acara gosip dan berita criminal.
Disaat menonton TV, seseorang berada dalam posisi pasif. Seluruh pikiran dan konsentrasi terarah pada TV. Yang terjadi saat Anda menonton TV adalah Anda menerima informasi secara searah, yaitu dari TV ke Anda. Anda tidak memiliki kesempatan untuk berpikir secara kritis. Bahkan terkadang dengan kesadaran penuh Anda mengetahui bahwa sebenarnya Anda sedang di tipu, direkayasa, diperdaya oleh sang sutradara. Anda mengetahui dengan pasti bahwa cerita dalam sinetron maupun film tersebut sangatlah tidak masuk akal. Akan tetapi atas nama sebuah kesenangan maka Anda membiarkan diri Anda terus dan terus dibodohi. Kondisi seperti ini yang kemudian menjadikan pikiran Anda menjadi buntu, tidak tajam dalam menganalisa, dan cenderung malas untuk berfikir, hingga mengidap penyakit bodoh yang akut.
Seorang sahabat Nabi, Sayidina Ali pernah berpesan bahwa salah satu macam teman yang harus dihindari adalah berteman dengan orang yang bodoh. Karena dengan kebodohannya tersebut, meski niatnya baik, biasanya ujung-ujungnya malah celaka. Analoginya semisal rumah Anda lagi kebakaran, teman yang bodoh tanpa berpikir panjang akan menyiramkan apa saja kedalam api, entah itu air, cuka, minyak tanah maupun bensin. Niatnya sudah cukup baik, yaitu memadamkan api. Namun kebodohannya telah menjadikan niat baik tersebut bukannya menolong Anda malah semakin mencelakakan Anda.
Berdebat dengan orang bodoh hanya akan menghabiskan energi Anda. Bahkan disatu sisi kebodohan dapat memicu tindakan tidak rasional. Segala bentuk tindakan kekerasan umumnya dikarenakan ketidakmampuan dalam merasionalkan masalah. Seandainya seseorang mampu mengontrol emosinya dengan pikiran yang jernih. Setiap masalah dapat diselesaikan secara damai.
Buku adalah nutrisi bagi pikiran Anda. Melalui membaca buku Anda memberikan makanan bagi pikiran Anda. Sebagaimana organ tubuh lainnya yang membutuhkan makanan untuk energi. Pikiran pun membutuhkan bacaan sebagai energinya. Tanpa adanya energi, segala sesuatu pasti akan mati.
Membaca buku menjadikan seseorang kaya akan informasi. Info-info yang dimiliki ini yang kemudian menjadi bahan dasar untuk merumuskan pemecahan dari setiap masalah yang ditemui. Semakin banyak info yang Anda miliki, semakin bijak setiap keputusan yang dapat Anda buat. Ibarat seekor Elang, Anda dapat melihat masalah dari tempat yang tinggi.
Mari kita lihat apa yang Anda miliki jika Anda mulai membiasakan diri membaca buku sehari selama satu jam. Membaca buku selama satu jam dalam sehari maka dalam seminggu Anda akan dapat menyelesaikan minimal satu buku. Hal itu sama dengan membaca empat buku dalam sebulan. Selama setahun total buku yang telah Anda baca mencapai empat puluh delapan buku . Dalam sepuluh tahun, hampir lima ratus buku yang telah Anda baca.
Selanjutnya Anda bandingkan jika dalam sehari Anda mengalokasikan waktu tiga jam untuk membaca buku. Satu jam setelah Anda bangun dipagi hari, satu jam disaat santai di sore hari, dan satu jam sebelum Anda tidur dimalam hari. Dalam satu minggu maka Anda dapat menghabiskan membaca dua buah buku. Dalam sebulan menjadi delapan buku. Setahun menjadi sembilan puluh enam buku, dan dalam waktu kurang lebih lima tahun Anda telah dapat membaca lima ratus buku.
Jika Anda telah membaca seratus buku tentang manajemen (atau bidang yang lainnya), maka Anda layak disebut sangat baik menguasai ilmu manajemen. Namun jika Anda telah membaca kurang lebih lima ratus buku tentang manajemen maka Anda sangat-sangat layak untuk disebut orang hebat dalam ilmu manajemen.
Rata-rata orang sukses menghabiskan minimal tiga jam untuk membaca buku dibidangnya. Di rumah-rumah mereka terdapat perpustakaan pribadi yang berisi ratusan bahkan ribuan judul buku. Mereka juga sangat-sangat menghargai waktu. Kemanapun mereka pergi, buku senantiasa menjadi teman yang setia. Mereka menyempatkan membaca selembar demi selembar disela-sela kegiatan. Tidak ada waktu kosong yang tidak dilewatkan dengan membaca.
Secara teknis, seseorang tidaklah perlu sekolah setinggi mungkin untuk memperoleh ilmu. Kecuali yang diinginkan adalah ijasah atau gelar akademik. Hanya dengan rajin membaca dan praktek, seseorang bisa menjadi ahli dalam setiap bidang yang diminatinya. Kebanyakan dari para pelajar maupun mahasiswa, kegiatan menuntut ilmu hanya dilakukan saat pembelajaran di dalam kelas. Dengan keterbatasan jam belajar serta kemampuan pengajar dalam menyampaikan materi, dapat Anda perkirakan berapa banyak ilmu yang dapat mereka serap. Tanpa ditunjang oleh kegiatan membaca maka yang tercipta adalah para lulusan perguruan tinggi yang siap memenuhi daftar panjang para pengangguran terdidik di negara ini.
Jika dipersentasekan dari seluruh mahasiswa disebuah Universitas, rata-rata hanya 10% yang gemar membaca. Sebagian lainnya hanya membaca jika ditugaskan oleh dosen. Dan sebagian lainnya bahkan memberi label pada diri mereka sebagai orang yang anti-baca. Sungguh sangat ironis, mahasiswa yang dikenal masyarakat sebagai kaum intelek tapi memiliki minat baca yang sedikit. Inginnya saja di sebut intelek, tapi sikap dan tingkah laku masih seperti anak SMP. Semangatnya ingin jadi aktivis, tapi saat diajak berdiskusi bisanya nengok kanan-kiri. Cita-citanya ingin jadi politisi, tapi bisanya hanya mengkritisi tanpa bisa memberikan solusi. Semua yang dibicarakan tergolong basi.
Untuk memajukan bangsa ini kita butuh lebih banyak pemimpin. Pemimpin sejati yang mampu membawa bangsa ini kepada perubahan besar. Pemimpin sejati yang mampu melihat potensi yang ada dari bangsa ini dan mampu memaksimalkannya untuk kemakmuran bersama. Pemimpin sejati yang mampu mengatasi setiap permasalahan dengan bijak. Pemimpin cerdas yang mampu merubah budaya baca bangsa Indonesia menjadi maju.
Secara yakin, marilah kita pastikan bahwa Andalah salah satu pemimpin sejati itu. Marilah kita bangun bangsa ini bersama. Melalui dari saat ini, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal yang terkecil yaitu membaca buku. Sudahkah Anda membaca buku hari ini? Because Leader is Reader. SALAM SUKSES (Line Diskusi : 0435-8722783)
Langganan:
Postingan (Atom)